KERJA KERAS
Kerja berarti
berusaha atau berjuang dengan keras berarti sungguh-sungguh. Bekerja keras
adalah bekerja dengan gigih dan sungguh-sungguh untuk mencapai suatu cita-cita.
Bekerja keras tidak mesti “banting tulang” dengan mengeluarkan tenaga secara
fisik, akan tetapi sikap bekerja keras juga dapat dilakukan dengan berpikir
sungguh-sungguh dalam melaksanakan pekerjaannya. Kerja keras yaitu
bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan atau prestasi kemudian
disertai dengan berserah diri (tawakkal) kepada Allah SWT baik untuk
kepentingan dunia dan akhirat. Firman Allah SWT yang artinya sebagai berikut:
“ Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan
berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik,
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash “ 77)
Dengan
demikian, sikap kerja keras dapat dilakukan dalam menuntut ilmu, mencari
rezeki, dan menjalankan tugas sesuai dengan profesi masing-masing.
Pentingnya
bekerja keras ini tersirat dalam firman Allah surat al-Jumu’ah ayat 10 yang
artinya:
“ Apabila
telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah
karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.“
Selain itu,
Allah juga berfirman dalam surat at-Taubah/9 ayat 105 yang artinya:
"Dan
Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang
mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)
Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada
kamu apa yang telah kamu kerjakan. “
Ayat di atas
mengajarkan bahwa kita tidak saja melakukan ibadah khusus, seperti shalat,
tetapi juga bekerja untuk mencari apa yang telah dikaruniakan Allah di muka
bumi ini. Kemudian pada surat at-Taubah di atas mengisyaratkan bahwa kita harus
berusaha sesuai dengan kemampuan maksimal kita dan hal itu akan diperhitungkan
oleh Allah SWT. Orang yang beriman dilarang bersikap malas, berpangku tangan,
dan menunggu keajaiban menghampirinya tanpa adanya usaha. Allah menciptakan
alam beserta segala isinya diperuntukkan bagi manusia. Namun, untuk memperoleh
manfaat dari alam ini, manusia harus berusaha dan bekerja keras. Rasulullah SAW
juga menganjurkan umatnya untuk bekerja keras. Beliau menegaskan bahwa makanan
yang paling baik adalah yang berasal dari hasil keringat sendiri. Sabdanya:
عَنِ
اْلمَقْدَادِ بْنِ سَعْدِ يَكْرِبَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ مَا
أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلَِ يَدَيْهِ
وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ (رواه البخارى(
Artinya: Tidak
ada makanan yang lebih baik bagi seseorang melebihi makanan yang berasal dari
buah tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud AS makan dari hasil tangannya
sendir.
Perintah
untuk bekerja keras juga terdapat dalam firman
Allah QS. Al-Insyiqoqayat 6 yang artinya:
“Wahai
manusia sesungguhnya kamu harus bekerja keras (secara sungguh-sungguh) menuju
keredaan Tuhanmu”.
TANGGUNG
JAWAB
Dalam
sejarah ulama salaf, diriwayatkan bahwa khalifah rasyidin ke V Umar bin Abdil
Aziz dalam suatu shalat tahajjudnya membaca ayat 22-24 dari surat ashshoffat
احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ(22)مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ(23)وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ(24)
yang artinya : (Kepada para malaikat diperintahkan) “Kumpulkanlah orang-orang
yang dzalim beserta teman sejawat merekadan sembah-sembahan yangselalu mereka
sembah, selain Allah: maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan
tahanlah mereka di tempat perhentian karena mereka sesungguhnya mereka akan ditanya
( dimntai pertanggungjawaban ).”
Beliau
mengulangi ayat tersebut beberapa kali karena merenungi besarnya tanggungjawab
seorang pemimpin di akhirat bila telab melakukan kedzaliman. Dalam riwayat lain
Umar bin Khatab r.a. mengungkapkan besarnya tanggung jawab seorang pemimpin di
akhiarat nanti dengan kata-katanya yang terkenal : “Seandainya seekor keledai
terperosok di kota Baghdad nicaya Umar akan dimintai pertanggungjawabannya,
seraya ditanya : Mengapa tidak meratakan jalan untuknya ?” Itulah dua dari ribuan
contoh yang pernah dilukiskan para salafus sholih tentang tanggungjawab
pemimpin di hadapan Allah kelak.
Pada
prinsipnya tanggungjawab dalam Islam itu berdasarkan atas perbuatan individu
saja sebagaimana ditegaskan dalam beberapa ayat seperti ayat 164 surat Al An’am
وَلَا
تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (164)
Artinya:
“Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada
dirinya sendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”
Dalam surat
Al Mudatstsir ayat 38 dinyatakan
كُلُّ
نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ(38)
Artinya:
“Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telahdiperbuatnya”
Akan tetapi perbuatan individu itu merupakan suatu gerakan yang dilakukan
seorang pada waktu, tempat dan kondisi-kondisi tertentu yang mungkin bisa
meninggalkan bekas atau pengaruh pada orang lain. Oleh sebab itu apakah
tanggung jawab seseorang terbatas pada amalannya saja ataukah bisa melewati
batas waktu yang tak terbatas bila akibat dan pengaruh amalannya itu masih
terus berlangsung mungkin sampai setelah dia meninggal ?
Seorang yang
cerdas selayaknya merenungi hal ini sehingga tidak meremehkan perbuatan baik
sekecil apapun dan tidak gegabah berbuat dosa walau sekecil biji sawi. Mengapa
demikian ? Boleh jadi perbuatan baik atau jahat itu mula-mula amat kecil ketika
dilakukan, akan tetapi bila pengaruh dan akibatnya terus berlangsung lama, bisa
jadi akan amat besar pahala atau dosanya.
Allah SWT
menyatakan
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَءَاثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ(12)
Artinya:
Kami menuliskan apa-apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka
tinggalkan. (Yaasiin 12).
Ayat ini
menegaskan bahwa tanggangjawab itu bukan saja terhadap apa yang diperbuatnya
akan tetapi melebar sampai semua akibat dan bekas-bekas dari perbuatan
tersebut. Orang yang meninggalkan ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah atau
anak yang sholeh , kesemuanya itu akan meninggalkan bekas kebaikan selama masih
berbekas sampai kapanpun. Dari sini jelaslah bahwa Orang yang berbuat baik atau
berbuat jahat akan mendapat pahala atau menanggung dosanya ditambah dengan
pahala atau dosa orang-orang yang meniru perbuatannya. Hal ini ditegaskan dalam
Surat An nahl 25
لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ(25)
Artinya:
“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan
sepenuh-penuhnya pada hari kiamat dan sebagian dosa orang yang mereka sesatkan
yang tidak mengetahui sedikitpun bahwa mereka disesatkan. Ingatlah amat
buruklah dosa yang mereka pikul itu.”
Di sini kita
merenung sejenak seraya bertanya: “apabila yang memerintah kejahatan atau
kedurhakaan itu seorang pemimpin yang memilik kekuasaan penuh, apakah dia saja
yang akan menanggung dosanya dan dosa rakyatnya karrena mereka dipaksa ?
Ataukah rakyat juga harus menaggung dosanya walau ia lakukan di bawah ancaman
paksaan tersebut ?” Menurut hemat saya, seorang penguasa dianggap tidak memaksa
selama raksyat masih bisa memiliki kehendak yang aada dalam dirinya. Perintah
seorang pimpinan secara lisan maupun tulisan tidak berarti melepaskan seorang
bawahan dari tanggungjawab atas semua perbuatannya. Alquran mencela orang-orang
yang melakukan dosa dengan alasan pimpinannya menyuruh berbuat dosa. Allah
menyatakan sbb.
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَالَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا(66)وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا(67)
: “Pada hari
ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “alangkah
baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul” Dan
mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati
pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami , lalu mereka menyesatkan kami
dari jalan yang benar”. (Al ahzab 66-67).
Allah
membantah mereka dengan tegas
وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ(39)
: “Harapanmu
itu sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu
telah menganiaya dirimu sendiri . Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu.
(Az Zukhruf 39).
Comments
Post a Comment