Kabinet Natsir, Sejarah Pembentukan, Program Kerja Dan
Kejatuhannya
Kabinet
Natsir, Sejarah Pembentukan, Program Kerja Dan Kejatuhannya -
Sebelum
digelar Pemilu 1955, dalam masa interval lima tahun yaitu antara tahun
1950 sampai dengan 1955, Indonesia pernah memiliki empat kabinet yang
bergantian dalam menjalankan roda Pemerintahan. Pada saat itu sepertinya
Indonesia memang masih dalam masa pencarian sistem yang paling pas dan bisa
diterapkan untuk menjalankan pemerintahan. Kabinet yang berganti tersebut
diantaranya adalah Kabinet Natsir, Kabinet Sukiman, Wilopo dan Kabinet Ali
Sastroamijoyo. Pada masa itu, sulit bagi kabinet untuk menjalankan agenda dan
program kerja yang sudah mereka susun. Karena konflik yang sangat tajam dari
oposisi dan saling menjatuhkan. Umumnya, pelaksana atau anggota kabinet sudah
dipilih dan disesuaikan dengan keahlian pada bidangnya dan ditambah dengan
dukungan dari partai.
1.
Pembentukan Kabinet Natsir
Kabinet
Natsir sendiri mulai memerintah pada tanggal 6 September 1950 dan berakhir pada
tanggal 21 Maret 1951. Kabinet Natsir adalah kabinet yang dibangun atas dasar
koalisi yang beranggotakan inti dari Partai Masyumi. Dalam Kabinet Natsir, PNI
tidak mendapatkan jatah jabatan sama sekali, yang paling banyak adalah dari
orang-orang partai Masyumi meskipun di dalam kabinet terdapat juga orang-orang
non partai. Sebenarnya impian dari Natsir sendiri untuk kabinet nya adalah
kabinet yang nasionalis yang berkoalisi dengan beberapa partai. Namun hal ini
tidak bisa diwujudkan karena terjadi perebutan jabatan antara PNI dan Masyumi.
Sehingga, dengan sendirinya pihak dari partai PNI tidak senang dengan keadaan
seperti ini dan menjadikan sulit merekrut PNI untuk masuk ke dalam Kabinet
Natsir.
Pendapat
yang bersebrangan diantara kedua partai adalah terkait pembagian jatah jabatan
menteri. Natsir berpendapat bahwa partainya mempunyai lebih banyak hak dari
pada partai lainnya. Pendapat tersebut kemudian tidak disetujui oleh PNI,
karena PNI menganggap bahwa semua partai juga memiliki hak yang sama atas
jabatan di Pemerintahan. PNI sendiri dari tuntutannya adalah agar orang-orang
yang menduduki jabatan menteri dalam negeri, menteri luar negeri dan menteri pendidikan.
Namun kemudian dari hasil perundingan PNI bersedia melepas jabatan menteri luar
negeri dan diisi oleh orang Masyumi dan menteri pendidikan untuk partai lain.
Keinginan PNI mendapatkan jatah menteri dalam negeri kemudian tidak terlaksana
karena pos menteri dalam negeri diisi oleh orang Masyumi. Dan ini lah yang
menimbulkan konflik karena PNI beranggapan bahwa yang dilakukan ini tidak adil,
karena Perdana Menteri sudah berasal dari Masyumi.
Kecaman
demi kecaman terus melanda Kabinet Natsir, bukan saja pihak dari luar partai
Masyumi, namun juga dari dalam negeri. Tekanan tersebut ditujukan kepada
keputusan konggres Desember 1949 yang memutuskan bahwa ketua umum partai
dilarang menjadi menteri. Sebenarnya, maksud dari keputusan ini sendiri adalah
adanya pengkonsolidasian partai yang kemudian diubah oleh Dewan Partai di Bogor
pada tanggal 3 sampai 6 Juni 1960 yang isinya adalah bahwa sistem federal tidak
bisa dipertahankan lagi. Kemudian agar keputusan ini tidak terlalu dilanggar,
maka Natsir yang kala itu sebagai ketua umum Masyumi, dinonaktifkan dari ketua
partai dan kemudian digantikan oleh Jusuf Wibisono.
2.
Program Kerja Kabinet Natsir
Dalam
setiap susunan kabinet, tentu memiliki program kerja masing-masing yang tidak
sama. Program kerja Kabinet Ali Sastroamijoyo I misalnya, tentu tidak sama dengan program kerja
dari Kabinet Wilopo. Begitu juga dengan Kabinet Natsir, tentu memiliki program
kerja sendiri dan memiliki prioritas utama sendiri. Di bawah ini adalah
beberapa program kerja utama dari Kabinet Natsir, perhatikan.
a.
Melakukan Persiapan dan penyelenggaraan pemilihan umum untuk Konstituante
b.
Melakukan konsolidasi dan penyempurnaan susunan pemerintahan serta membentuk
peralatan negara yang kuat dan berdaulat
c.
Menggiatkan usaha untuk memenuhi dan menjaga keamanan dan ketentraman
d.
Melakukan penyempurnaan terhadap organisasi Angkatan perang
e. Sebisa mungkin memperjuangkan penyelesaian soal
Irian Barat secepatnya
f.
Mengembangkan dan memperkokoh kesatuan ekonomi rakyat sebagai dasar bagi
pelaksanaan ekonomi nasional yang sehat
g.
Membantu pembangunan perumahan rakyat serta memperluas usaha – usaha
meninggikan derajat kesehatan dan kecerdasan rakyat
h.
Penerapan program benteng, yaitu pengusaha nasional golongan ekonomi lemah
diberi bantuan kredit
i.
Pelaksanaan program industrialisasi (Rencana Sumitro)
j.
Pembentukan DPRD
k.
Pemulihan bekas – bekas anggota tentara dan gerilya dalam masyarakat
3.
Pencapaian Kabinet Natsir
Dalam
menjalankan tugas pemerintahan, pasti sebuah kabinet bisa meraih
pencapaian-pencapaian tertentu. Meski secara keseluruhan mungkin ada yang
menilai gagal, setidaknya tetao ada satu atau dua program atau agenda yang bisa
dilakukan atau mencapai target. Atau setidaknya bisa memperbaiki suatu kondisi
menjadi lebih baik. Begitu halnya dengan Kabinet Natsir, tentu dalam kurun masa
kekuasaannya memiliki pencapaian prestasi dan keberhasilan yang berhasil
didapatkan. Di bawah ini adalah beberapa pencapaian Kabinet Natsir dalam masa
kekuasaannya.
Keberhasilan
yang dicapai Kabinet Natsir yang menonjol diantaranya adalah di bidang ekonomi
yang di situ ada Sumitro Plan yang berhasil mengubah ekonomi yang pada awalnya
adalah ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional. Selain itu, Indonesia juga
berhasil masuk PBB dan terjadi perundingan antara Belanda dan Indonesia
mengenai masalah Irian Barat untuk pertama kalinya. Meski memiliki beberaa
keberhasilan, namun program kerja Kabinet Natsir bukan tanpa kendala atau
masalah. Ada beberapa kendala dan masalah yang harus dihadapi oleh Kabinet
Natsir untuk menjalankan dan mensukseskan program kerjanya.
Pada
program di bidang ekonomi, dalam penerapan Sumitro Plan, tidak bisa berjalan
dengan maksimal. Hal ini karena para pengusaha yang diberikan bantuan banyak
diselewengkan sehingga banyak yang tidak mencapai sasaran. Kemudian upaya
perjuangan dan diplomasi mengenai masalah Irian Barat mengalami kebuntuan alias
mengalami kegagalan. Selain itu, Kabinet Natsir nampaknya belum bisa terlepas
dari masalah keamanan yang berupa masih adanya pemberontakan yang hampir
menyerang seluruh wilayah Indonesia. Banyak gerakan kedaerahan yang berusaha
melakukan pemberontakan kepada pemerintah, seperti misalnya Gerakan DI/TII,
Gerakan Andi Azis, Gerakan APRA, Gerakan RMS. Selain itu, seringnya
mengeluarkan Undang Undang darurat juga menjadi kendala Kabinet Natsir yang
kemudian sering mendapatkan kritik dari oposisi.
4.
Runtuh Dan Berakhirnya Kekuasaan Kabinet Natsir
Pada
akhirnya, kekuasaan Kabinet Natsir ini pun juga mengalami kemunduran yang pada
akhirnya membawa kepada keruntuhan kekuasaan. Ada beberapa penyebab yang
membuat Kabinet Natsir runtuh dan kehilangan kekuasaan. Penyebab utama dari
keruntuhan kabinet Natsir ini adalah kegagalan dalam kabinet tersebut dalam
menyelesaikan masalah Irian Barat. Kemudian ditambah lagi adanya mosi tidak
percaya dari PNI terkait dengan pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD
dan DPRDS. Peraturan pemerintah tersebut dianggap PNI terlalu menguntungkan
Masyumi, dan mosi dari PNI ini pun diterima oleh parlemen sehingga Natsir harus
mengembalikan mandatnya kepada Presiden.
Selain
mosi tidak percaya dari PNI yang disetujui parlemen, ada mosi tidak percaya
dari parlemen terkait kegagalan Kabinet Natsir dalam perundingan antara
Indonesia dengan Belanda terkait Irian Barat. Tekanan yang bertubi-tubi ini
kemudian sampai pada puncaknya yaitu kejatuhan Kabinet Natsir pada tanggal 21
Maret 1951 dan kemudian Natsir pun mengembalikan mandatnya kepada Presiden
Soekarno.
5.
Susunan Menteri Pada Masa Kabinet Natsir
Di
bawah ini adalah susunan menteri di bawah kabinet Natsir. Menteri-menteri dari
gabungan beberapa partai politik tersebut memiliki peran yang sangat besar saat
itu, perhatikan susunannya di bawah ini.
1.
Jabatan : Perdana Menteri
Nama Menteri : Mohammad Natsir
Nama Partai : Masyumi
2.
Jabatan : Wakil Perdana Menteri
Nama Menteri : Hamengkubuwono IX
Nama Partai : -
3.
Jabatan : Menteri Luar Negri
Nama Menteri : Mr. Mohammad Roem
Nama Partai : Masyumi
4.
Jabatan : Menteri Dalam Negeri
Nama Menteri : Mr. Assaat
Nama Partai : -
5.
Jabatan : Menteri Pertahanan
Nama Menteri : Dr. Abdul Halim
Nama Partai : -
6.
Jabatan : Menteri Kehakiman
Nama Menteri : Wongsonegoro
Nama Partai : PIR
7.
Jabatan : Menteri Penerangan
Nama Menteri : Pellaupessy
Nama Partai : Demokrat
8.
Jabatan : Menteri Keuangan
Nama Menteri : Syifruddin Prawiranegara
Nama Prtai : Masyumi
9.
Jabatan : Menteri Pertanian
Nama Menteri : Tandiono Manu
Nama Prtai : PSI
10.
Jabatan : Menteri Perdagangan dan Perindustrian
Nama Menteri : Dr. Sumitro Djojohadikusumo
Nama Partai : PSI
12.
Jabatan : Menteri Perhubungan
Nama Menteri : Ir. Djuanda
Nama Partai : -
Comments
Post a Comment