|
[Type the document title]
|
|
[Type the company name]
[Type the company
address]
[Type the phone number]
[Type the fax number]
[Pick the date]
|
|
|
Pengertian
Batik
Menurut wikipedia, Batik (atau kata Batik)
berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “nitik”. Kata batik
sendiri meruju pada teknik pembuatan corak menggunakan canting atau cap dan
pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna corak “malam” (wax)
yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Dalam
bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing.
Jadi kain batik adalah kain yang memiliki ragam hias atau corak yang
dibuat dengan canting dan cap dengan menggunakan malam
sebagai bahan perintang warna. Teknik ini hanya bisa diterapkan di atas bahan
yang terbuat dari serat alami seperti katun, sutra, wol dan tidak bisa
diterapkan di atas kain dengan serat buatan (polyester). Kain yang pembuatan
corak dan pewarnaannya tidak menggunakan teknik ini dikenal dengan kain
bercorak batik biasanya dibuat dalam skala industri dengan teknik cetak
(print) bukan kain batik. Ini dia jenis jenis batik:
1.
Batik Solo
Ciri khas yang terdapat pada batik Solo adalah perpaduan dari
bentuk-bentuk geometris yang berukuran kecil-kecil terletak dalam pewarnaannya.
Ragam motif batik asal Solo memang dipengaruhi dengan makna-makna simbolis yang
berasal dari kebudayaan Hindu. Beberapa ciri khas batik Solo banyak ditemukan
pada motif-motif seperti, sawat, meru, naga, burung, dan modang.
motif sido asih
Sejarah batik
Solo tidak terlepas dari pengaruh Keraton. Batik Solo bermula pada masa
Kerajaan Pajang lebih dari 4 abad yang lalu. Seperti diketahui, kerajaan yang
merupakan kelanjutan dari dinasti Demak tersebut memindahkan pemerintahannya
dari Demak Bintoro kePajang.
Peran Dinasti Pajang
Seperti ditulis di kampoenglaweyan.com, Kyai Ageng Henis adalah tokoh yang pertama kali memperkenalkan batik di desa Laweyan yang saat itu masuk ke wilayah kerajaan Pajang. Ki Ageng Henis adalah putra Ki Ageng Selo yang juga keturunan Brawijaya V. Beliau bermukim di desa Laweyan sejak tahun 1546 M.
Ki Ageng Henis yang dikenal dengan Ki Ageng Laweyan merupakan “manggala pinatuwaning nagari” semasa Jaka Tingkir masih menjadi Adipati Pajang. Beliau adalah kakek dari Danang Sutawijaya yang menjadi pendiri kerajaan Mataram.
Peran Dinasti Pajang
Seperti ditulis di kampoenglaweyan.com, Kyai Ageng Henis adalah tokoh yang pertama kali memperkenalkan batik di desa Laweyan yang saat itu masuk ke wilayah kerajaan Pajang. Ki Ageng Henis adalah putra Ki Ageng Selo yang juga keturunan Brawijaya V. Beliau bermukim di desa Laweyan sejak tahun 1546 M.
Ki Ageng Henis yang dikenal dengan Ki Ageng Laweyan merupakan “manggala pinatuwaning nagari” semasa Jaka Tingkir masih menjadi Adipati Pajang. Beliau adalah kakek dari Danang Sutawijaya yang menjadi pendiri kerajaan Mataram.
Desa Laweyan yang terletak di tepi Sungai Laweyan ini, dulunya adalah pusat perdagangan Lawe (bahan baku tenun). Bahan baku kapas dipasok dari daerah Juwiring, Pedan dan Gawok. Proses distribusi barang di Pasar Lawe dilakukan melalui bandar Kabanaran yang tak jauh dari Pasar Lawe. Dulu terdapat banyak Bandar di tepi sungai, seperti Bandar Kabanaran, dan Bandar Laweyan. Melalui Bandar inilah yang menghubungkan Desa Laweyan menuju Sungai Bengawan Solo. Dari sinilah, batik terhubung dengan daerah pesisir.
Batik Solo Era Keraton Surakarta
Berdirinya Keraton Surakarta tahun
1745 turut mewarnai perkembangan Batik Surakarta. Berawal dari perpecahan
Keraton Surakarta dan Ngayogyakarta sebagai akibat dari perjanjian Giyanti
tahun 1755. Seluruh busana kebesaran Mataram dibawa ke Keraton Yogyakarta.
Sementara itu, PB III memerintahkan kepada para abdi dalem untuk membuat
sendiri motif batik Gagrak Surakarta.
Dari perintah itu masyarakat berlomba-lomba untuk
membuat corak batik. Muncul banyak motif batik yang berkembang di masyarakat.
PB III pun mengeluarkan peraturan tentang kain batik yang boleh dipakai di
dalam keraton. Ada beberapa motif tertentu yang diizinkan untuk dipakai di
lingkungan keraton.
“Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu laranganingsun,
bathik sawat, bathik parang lan bathik cemukiran kang calacap modang, bangun
tulak, lenga teleng lan tumpal, apa dene bathik cemukiran kang calacap
lung-lungan, kang sun wenangake anganggoa pepatihingsun lan sentananingsun dene
kawulaningsun pada wedhia.”
Adapun jenis kain batik yang saya
larang, batik sawat, batik parang dan batik cemukiran yang berujung seperti
paruh burung podang, bagun tulak, minyak teleng serta berujud tumpal dan juga
batik cemukiran yang berujung lung (daun tumbuhan yang menjalar di tanah), yang
saya izinkan memakainya adalah patih dan para kerabat saya. Sedangkan para
kawula (rakyat) tidak diperkenankan.
Para abdi dalem bertugas untuk
merancang batik yang diperuntukkan bagi kepentingan keraton. Mereka banyak yang
tinggal di luar keraton, sehingga terbentuklah komunitas perajin batik seperti
di Kratonan, Kusumodiningratan, Kauman maupun Pasar Kliwon. Bahan yang
digunakan serta pewarnaan masih tetap memakai bahan lokal seperti soga Jawa.
Batik Solo Awal Abad XX
Pada awal abad XX, batik menjadi salah satu identitas
perekonomian masyarakat Jawa. Pada masa ini, batik telah memasuki era
industrialisasi dan terbentuknya kelompok-kelompok para pedagang. Salah satu
organisasi yang terkenal adalah Sarekat Dagang Islam yang dipelopori oleh KH
Samanhudi. Beliau memiliki jaringan dagang yang kuat hingga ke Kudus, Surabaya,
Gresik, Tuban, Cirebon, Bogor hingga ke Batavia dan luar Jawa. Salah satu
distributornya adalah HOS Cokroaminoto yang menjadi tokoh dalam organisasi
Sarekat Dagang Islam.
Berdirinya SDI dilatarbelakangi persaingan dagang antara orang-orang Cina dan Belanda. Organisasi ini menunjukkan eksistensi masyarakat pribumi Jawa Islam di tengah kekuasaan colonial Belanda. Sekaligus mempertahankan eksistensi batik yang menjadi salah satu pilar ekonomi masyarakat Jawa. Pada akhirnya SDI menjadi salah satu organisasi perintis kemerdekaan Indonesia.
Berdirinya SDI dilatarbelakangi persaingan dagang antara orang-orang Cina dan Belanda. Organisasi ini menunjukkan eksistensi masyarakat pribumi Jawa Islam di tengah kekuasaan colonial Belanda. Sekaligus mempertahankan eksistensi batik yang menjadi salah satu pilar ekonomi masyarakat Jawa. Pada akhirnya SDI menjadi salah satu organisasi perintis kemerdekaan Indonesia.
Hingga sekarang Batik Laweyan Solo
tetap ada. Para pengusaha Laweyan pernah mencapai kejayaan pada era 1970-an.
Kini, Pemerintah Surakarta dua
kampung batik di kota Solo, yakni kampong batik Laweyan dan kampung batik
Kauman, yang terletak di belakang Masjid Agung Surakarta. Salah satu pusat
perdagangan batik yang terkenal adalah Pasar Klewer.
BATIK JOGJA
Batik Jogja atau Batik Yogya pada dasarnya merupakan batik yang memiliki
corak batik dengan dasar putih. Berikut TOP 5 gambar motif batik klasik khas
Yogyakarta yang sering menjadi pakem atau inspirator lahirnya batik-batik
kontemporer atau batik modern.
1. MOTIF BATIK KAWUNG
[MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Naphtol
Digunakan : Sebagai Kain Panjang
Unsur Motif : Geometris
Makna Filosofi : Biasa dipakai raja dan keluarganya sebagai lambang keperkasaan dan keadilan
Zat Pewarna: Naphtol
Digunakan : Sebagai Kain Panjang
Unsur Motif : Geometris
Makna Filosofi : Biasa dipakai raja dan keluarganya sebagai lambang keperkasaan dan keadilan
2. MOTIF BATIK PARANG KUSUMO {Motif Batik Tulis}
Zat Pewarna: Naphtol
Digunakan : Sebagai kain saat tukar cincin
Unsur Motif : Parang, Mlinjon
Ciri Khas : Kerokan
Makna Filosofi : Kusumo artinya bunga yang mekar, diharapkan pemakainya terlihat indah
Zat Pewarna: Naphtol
Digunakan : Sebagai kain saat tukar cincin
Unsur Motif : Parang, Mlinjon
Ciri Khas : Kerokan
Makna Filosofi : Kusumo artinya bunga yang mekar, diharapkan pemakainya terlihat indah
3. MOTIF BATIK TRUNTUM [MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Soga Alam
Digunakan : Dipakai saat pernikahan
Ciri Khas : Kerokan
Makna Filosofi : Truntum artinya menuntun, diharapkan orang tua bisa menuntun calon pengantin.
4. MOTIF BATIK TAMBAL [MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Soga Alam
Digunakan : Sebagai Kain Panjang
Unsur Motif : Ceplok, Parang, Meru dll
Ciri Khas : Kerokan
Makna Filosofi : Ada kepercayaan bila orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut, sakitnya cepat sembuh, karena tambal artinya menambah semangat baru
Zat Pewarna: Soga Alam
Digunakan : Sebagai Kain Panjang
Unsur Motif : Ceplok, Parang, Meru dll
Ciri Khas : Kerokan
Makna Filosofi : Ada kepercayaan bila orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut, sakitnya cepat sembuh, karena tambal artinya menambah semangat baru
MOTIF BATIK PAMILUTO
Zat Warna : Soga Alam
Kegunaan : Sebagai kain panjang saat pertunangan
Unsur Motif : Parang, Ceplok, Truntum dan lainnya
Filosofi : Pamiluto berasal dari kata “pulut”, berarti perekat, dalam bahasa Jawa bisa artinya kepilut [tertarik].
Zat Warna : Soga Alam
Kegunaan : Sebagai kain panjang saat pertunangan
Unsur Motif : Parang, Ceplok, Truntum dan lainnya
Filosofi : Pamiluto berasal dari kata “pulut”, berarti perekat, dalam bahasa Jawa bisa artinya kepilut [tertarik].
Batik Pekalongan
Batik asli Pekalongan konon memiliki nilai historis
yang berkaitan dengan pergolakan di zaman kolonial Belanda. Ketika Panembahan
Senopati mengumumkan perang terbuka melawan Belanda perpecahan terjadi di
lingkungan keraton Yogyakarta. Keluarga keraton sempat terpecah
belah.
Para bangsawan
meninggalkan keraton bersama para pengikutnya dan menetap di berbagai daerah
termasuk Pekalongan. Di daerah-daerah baru tersebut kerajinan batik tetap
dikembangkankeluarga keraton disertai modifikasi yang terinspirasi kondisi
daerah di tempat tinggal baru tersebut.
Motif Batik dan Corak Batik Pekalongan
Corak Batik Pekalongan hampir sama dengan
batik Yogyakarta, bedanya lebih atraktif dan berwarna cerah. Ciri-ciri motif
batik asli pekalongan adalah
a. Ornament Khas Pekalongan
Batik Tulis Pekalongan Motif
Burung Garuda [Muslimodis.net]
Motif
batik asli Pekalongan memiliki ornament berbentuk tumbuhan dan burung garuda namun
tidak ada cecek sawut atau cecek gori. Pengisian motif berupa cecek garis-garis
atau cecek pitu. Detail cecek batik ala Pekalongan ini sangat menonjol sehingga
garis pembentuk ornament motif terbentuk dari cecek-cecek pula. Salah satu merk
batik halusan asli Pekalongan yang terkenal dengan permainan cecek adalah Oei
Tjow Soen.
b. Motif Batik Jlamprang
Batik Jlamprang
Salah satu nama motif batik Pekalongan adalah
Jlamprang yaitu motif batik berbentuk geometris. Motif ini dipengaruhi syiar agama
Islam yang menghindari ornament berbentuk makhluk hidup. Namun adapula ahli
sejarah yang berpendapat bahwa motif Jlamprang dipengaruhi kebudayaan Hindu
Syiwa.
c. Motif Batik Liong
Motif Batik Liong Pekalongan
Motif Baju Batik Pekalongan sangat mirip
burung Phoenix yaitu burung yang bulu sayap, kepala dan
ekornya bergelombang serta ornament Liong yaitu naga berkaki sebagai
pengaruh dari kebudayaan Cina
d. Motif dengan Warna Cerah
Warna Cerah Batik Tulis Pekalongan
Warna-warna kain batiknya cenderung cerah seperti
merah, kuning cerah, biru muda, violet dan oranye terutama batik yang
diproduksi di daerah pesisir Pekalongan
Perkembangan industri di pusat batik
Pekalongan cukup pesat. Daya tarik batik asli Pekalongan adalah bisa
ditemukan dalam motif klasik yang mirip dengan motif batik klasik Solo dan
Yogyakarta. Sehingga memenuhi selera pemburu batik motif asli dan halusan.
Motifnya mengikuti
trend. Pengrajin batik di Pekalongan tidak ragu berinovasi sehingga tercipta
motif-motif baru. Dalam sejarahnya tokoh tekstil Eropa Van Zuylen bahkan sempat
menerjuni kerajinan batik di Pekalongan dan memperkenalkan motif berbentuk
tumbuhan yang dibentuk secara realistis. Berikut ini adalah proses membatik yang
berurutan dari awal. Penamaan atau penyebutan cara kerja di tiap daerah
pembatikan bisa berbeda-beda, tetapi inti yang dikerjakannya adalah sama.
1) Ngemplong
Ngemplong
merupakan tahap paling awal atau pendahuluan, diawali dengan mencuci kain mori.
Tujuannya adalah untuk menghilangkan kanji. Kemudian dilanjutkan dengan
pengeloyoran, yaitu memasukkan kain mori ke minyak jarak atau minyak kacang
yang sudah ada di dalam abu merang. Kain mori dimasukkan ke dalam minyak jarak
agar kain menjadi lemas, sehingga daya serap terhadap zat warna lebih tinggi.
2) Nyorek atau Memola
Nyorek atau
memola adalah proses menjiplak atau membuat pola di atas kain mori dengan cara
meniru pola motif yang sudah ada, atau biasa disebut dengan ngeblat. Pola
biasanya dibuat di atas kertas roti terlebih dahulu, baru dijiplak sesuai pola
di atas kain mori.
Tahapan ini dapat dilakukan secara langsung di atas kain atau menjiplaknya dengan menggunakan pensil atau canting. Namun agar proses pewarnaan bisa berhasil dengan baik, tidak pecah, dan sempurna, maka proses batikannya perlu diulang pada sisi kain di baliknya. Proses ini disebut ganggang.
Tahapan ini dapat dilakukan secara langsung di atas kain atau menjiplaknya dengan menggunakan pensil atau canting. Namun agar proses pewarnaan bisa berhasil dengan baik, tidak pecah, dan sempurna, maka proses batikannya perlu diulang pada sisi kain di baliknya. Proses ini disebut ganggang.
3) Mbathik
Mbathik
merupakan tahap berikutnya, dengan cara menorehkan malam batik ke kain mori,
dimulai dari nglowong (menggambar garis-garis di luar pola) dan isen-isen
(mengisi pola dengan berbagai macam bentuk). Di dalam proses isen-isen terdapat
istilah nyecek, yaitu membuat isian dalam pola yang sudah dibuat dengan cara
memberi titik-titik (nitik). Ada pula istilah nruntum, yang hampir sama dengan
isen-isen, tetapi lebih rumit.
4) Nembok
Nembok adalah
proses menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna dasar, dalam hal
ini warna biru, dengan menggunakan malam. Bagian tersebut ditutup dengan
lapisan malam yang tebal seolah-olah merupakan tembok penahan.
5) Medel
Medel adalah
proses pencelupan kain yang sudah dibatik ke cairan warna secara berulang-ulang
sehingga mendapatkan warna yang diinginkan.
6) Ngerok dan
Mbirah
Pada proses
ini, malam pada kain dikerok secara hati-hati dengan menggunakan lempengan
logam, kemudian kain dibilas dengan air bersih. Setelah itu, kain
diangin-anginkan.
7) Mbironi
Mbironi
adalah menutupi warna biru dan isen-isen pola yang berupa cecek atau titik
dengan menggunakan malam. Selain itu, ada juga proses ngrining, yaitu proses
mengisi bagian yang belum diwarnai dengan motif tertentu. Biasanya, ngrining
dilakukan setelah proses pewarnaan dilakukan.
8) Menyoga
Menyoga
berasal dari kata soga, yaitu sejenis kayu yang digunakan untuk mendapatkan
warna cokelat. Adapun caranya adalah dengan mencelupkan kain ke dalam campuran
warna cokelat tersebut.
9) Nglorod
Nglorod
merupakan tahapan akhir dalam proses pembuatan batik tulis maupun batik cap
yang menggunakan perintang warna (malam). Dalam tahap ini, pembatik melepaskan
seluruh malam (lilin) dengan cara memasukkan kain yang sudah cukup tua warnanya
ke dalam air mendidih.
Setelah diangkat, kain dibilas dengan air bersih dan kemudian diangin-arginkan hingga kering. Proses membuat batik memang cukup lama. Proses awal hingga proses akhir bisa melibatkan beberapa orang, dan penyelesaian suatu tahapan proses juga memakan waktu. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kain batik tulis berharga cukup tinggi.
Setelah diangkat, kain dibilas dengan air bersih dan kemudian diangin-arginkan hingga kering. Proses membuat batik memang cukup lama. Proses awal hingga proses akhir bisa melibatkan beberapa orang, dan penyelesaian suatu tahapan proses juga memakan waktu. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kain batik tulis berharga cukup tinggi.
Comments
Post a Comment